Catatan Rektor

HARMONISASI DALAM ISLAM
12 December 2011 02:26:29 | admin
Islam merupakan sebuah nama dari nama agama yang tidak diberikan oleh para pemeluknya melainkan kata “Islam” yang pada kenyataannya dicantumkan dalam al-Quran, yaitu: (1) “Wa radhitu lakum al-Islama dinan” artinya “Dan Allah mengakui bagimu Islam sebagai Agama”. (2). “Innaddina ‘indallah hi al Islam” artinya “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”. Berdasarkan 2 (dua) surah tersebut maka jelaslah bahwa nama Islam diberikan oleh Allah sebagai sebuah nama agama dan bukan nama hasil ciptaan manusia yang memeluk agama tersebut. Penyebutan Islam dengan Muhammadanisme, Mohammedan Law, Muhammadaansch Recht atau sejenisnya tidak tepat dan dapat membawa kekeliruan arti, karena Islam ialah wahyu dari Allah bukan ciptaan Muhammad SAW.
Ada beberapa makna dari Islam yaitu: (a). Islam jika
diambil dari urutan asal kata salima, artinya selamat. (b) Islam jika diambil dari urutan asal kata sali, artinya damai, rukun, bersatu. (c) Islam jika diambil dari urutan asal kata istaslama, artinya tunduk, dan taat kepada perintah Allah dengan memakai dasar petunjuk-petunjuk serta bimbingan ajaran Rasul Muhammad SAW. (d) Islam jika diambil dari urutan asal kata istlasama, artinya tulus dan ikhlas. Dan (e) Islam jika diambil dari urutan asal kata sullami, artinya tangga untuk mencapai keluhuran derajat lahir dan batin.
Oleh karena itu dari pengertian Islam tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan adanya 3 aspek, yaitu: (1). Aspek vertikal yaitu aspek yang mengatur harmonisasi antara makhluk dengan khaliknya (manusia dengan Tuhannya).
Dalam hal ini manusia bersikap berserah diri pada Allah. (2). Aspek horizontal yaitu mengatur hubungan harmonis antara manusia dengan manusia. Islam menghendaki agar manusia yang satu menyelamatkan, menentramkan dan mengamankan manusia yang lain. Dan (3). Aspek batiniah yang merupakan aspek yang mengatur harmonisasi ke dalam orang itu sendiri, yaitu supaya dapat menimbulkan kedamaian, ketenangan batin maupun kemantapan rohani dan mental.
Peran Manusia Sebagai Khalifah
Dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 30 Allah SWT berfirman: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Berdasarkan dari ayat di atas, Allah SWT menciptakan manusia agar dapat menjadi kalifah di muka bumi. Maksud khalifah di sini adalah manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan fungsi tersebut dengan baik, maka tugas manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik.
Ada dua peranan penting manusia sebagai khalifah di permukaan bumi ini yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat. Pertama, memakmurkan bumi (al-‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar-ri’ayah).
Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan menjalankan fungsi sebagai khalifah di muka bumi dengan tidak melakukan
pengrusakan terhadap alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Seperti firman-Nya dalam surat al-Qashash ayat 77 yang artinya: ...dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Anjuran Harmonisasi dalam Islam
Dalam Islam begitu banyak ajaran-ajaran yang menganjurkan tentang harmonisasi sesama umat manusia yang dalam hal ini adalah masyarakat, di antaranya adalah: 1) Sikap saling tolong menolong. (Lihat QS al-Maidah: 2). 2) Saling memberikan kasih sayang dan saling berdamai, (Lihat QS al-Hujarat: 10). 3) Toleransi
beragama. Sebagaimana yang kita ketahui konsep toleransi dalam Islam yang secara definisi Islam adalah “damai”, “selamat” dan “menyerahkan diri”, sehingga Islam sering dirumuskan dengan istilah “Islam agama rahmatal lil’ālamîn” (agama yang mengayomi seluruh alam). Ini berarti bahwa Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan. Dalam al-Qur’an Allah berfirman yang artinya, “dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”.
Di bagian lain Allah mengingatkan, yang artinya: “Sesungguhnya ini adalah umatmu semua (wahai para rasul), yaitu umat yang tunggal, dan aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku (saja)”. Ayat ini menegaskan bahwa pada dasarnya umat manusia itu tunggal tapi kemudian mereka berpencar memilih keyakinannya masing-masing. Ini mengartikulasikan bahwa Islam memahami pilihan keyakinan mereka sekalipun Islam juga menjelaskan “sesungguhnya telah jelas antara yang benar dari yang bathil”.
Allah juga berfirman dalam surah al-Kafirun ayat 6, yang artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”
Dan masih banyak ayat-ayat al-Qur’an lain yang menganjurkan kepada kita untuk senantiasa selalu menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam dalam hal menjaga dan meningkatkan keshalehan sosial dalam memelihara keharmonisan sesama masyarakat.
Kondisi Umat Islam Sekarang ini
Melihat kondisi umat Islam hari ini mungkin kita patut bersedih, konflik antar sesama terus terjadi, coba kita saksikan bagaimana negara-negara non Islam menghancurkan negara-negara berbasis Islam dengan berbagai macam pola dan strategi untuk memporak-porandakan Islam, seperti yang terjadi di negara Libya, Sudan, Mesir, Palestina, Irak, Afganistan, Pakistan, Iran, Maroko dan lain sebagainya. Kemudian belum lagi perselisihan antara kaum sunni dan syiah di beberapa negara Islam seperti di Irak, Palestina, Yaman dan lain sebagainya. Sungguh kita sebagai kaum muslimin patut menangis dan menyesali hari ini dengan musibah yang menimpa saudara-saudara kita di sana.
Begitu juga yang terjadi di Indonesia, persoalan utama yang selalu terjadi dapat kita lihat dalam penentuan awal puasa ramadhan yang diikuti oleh penentuan idul fitri, persoalan ini hampir selalu menjadi bahan perselisihan dan perbedaan yang lazimnya terjadi pada
ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah dan lain sebagainya, selanjutnya persoalan-persoalan furu’ seperti jumlah raka’at shalat tarawih, persoalan qunut dan lain sebagainya. Semua ini sangat sering menjadi masalah dalam masyarakat muslim yang akhirnya dapat memecah belah umat. Sehingga mengakibatkan nilai-nilai keharmonisan itu hilang antar sesama ummat.
Begitu juga halnya yang kita saksikan di Aceh sebagai bumi Serambi Mekkah dan berstatus Syari’at Islam, begitu banyak kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam (membawa bendera Islam) mengklaim bahwa dirinyalah yang terbaik, yang paling benar dan yang sangat kita sesali begitu mudah mengkafirkan kelompok lain demi kepentingan tertentu. Ini menunjukkan bahwa begitu lemah pemahaman kita dalam mengamalkan ajaran dan nilai-nilai keislaman.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Abu Ummah al-Bahuli r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Saya dapat menjamin suatu rumah
di kebun surga untuk orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia benar. Dan menjamin suatu rumah dipertengahan surga bagi orang yang tidak berdusta, mekipun bergurau. Dan menjamin suatu rumah dibahagian yang tinggi dari surga bagi orang yang baik budi pekertinya“. Dari hadis ini jelas sekali Rasul sangat menginginkan adanya sebuah perdamaian, saling menghargai dan menghormati antara sesama ummatnya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antar sesama ummat beragama. Islam hadir bukanlah menjadi agama teroris sebagaimana yang diklaim oleh Barat hari ini, Islam bukan agama yang melanggar HAM dan Islam bukanlah agama yang identik dengan kekerasan. Justru Islam hadir sebagai pembawa kedamaian, kenyamanan dan sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Harapan dari kenyataan
Akhirnya pada kesempatan yang singkat
ini kita berharap bagaimana umat Islam dapat membangun spiritual baru dan pengembangan etika dalam suatu agama yang lebih mendukung pada perdamaian dan penyelesaian masalah secara nirkekerasan. Kita sebagai umat Islam harus benar-benar dapat mengembangkan dan mempraktekkan nilai-nilai toleransi antar sesama, saling tolong menolong, menjauhkan diri dari perbuatan fitnah, dan terus menjaga keharmonisan baik dengan Allah SWT sebagai pencipta maupun antar sesama masyarakat sebagai bentuk keshalehan sosial.
Memang tidak ada manusia di dunia ini yang terbebas dari masalah, namun itulah sebuah cobaan. Bagi orang yang beriman, setiap masalah dihadapi dengan ketabahan dan instrospeksi apalagi di awal tahun baru hijriah ini, yang baru saja kita peringati dengan berbagai macam bentuk, baik melalui dakwah di mesjid-mesjid, memberikan ucapan selamat via sms maupun email dan bahkan kita memeriahkan dengan menyelenggarakan pawai 1 muharram. Ini semua menunjukkan citra Islam yang penuh dengan
perdamaian serta terus mensyiar nilai-nilai ajaran Islam.
Islam selalu memosisikan diri sebagai solusi dari semua perbedaan, perselisihan dan permasalahan. mari kita kembali kepada jalan yang benar, jalan yang ihdinash shirathal mustaqiem, menuju kehidupan yang senantiasa selalu harmoni, damai dan indah.
Ditulis Oleh:
Farid Wajdi Ibrahim
Rektor IAIN Ar-Raniry
Ada beberapa makna dari Islam yaitu: (a). Islam jika
diambil dari urutan asal kata salima, artinya selamat. (b) Islam jika diambil dari urutan asal kata sali, artinya damai, rukun, bersatu. (c) Islam jika diambil dari urutan asal kata istaslama, artinya tunduk, dan taat kepada perintah Allah dengan memakai dasar petunjuk-petunjuk serta bimbingan ajaran Rasul Muhammad SAW. (d) Islam jika diambil dari urutan asal kata istlasama, artinya tulus dan ikhlas. Dan (e) Islam jika diambil dari urutan asal kata sullami, artinya tangga untuk mencapai keluhuran derajat lahir dan batin.
Oleh karena itu dari pengertian Islam tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan adanya 3 aspek, yaitu: (1). Aspek vertikal yaitu aspek yang mengatur harmonisasi antara makhluk dengan khaliknya (manusia dengan Tuhannya).
Dalam hal ini manusia bersikap berserah diri pada Allah. (2). Aspek horizontal yaitu mengatur hubungan harmonis antara manusia dengan manusia. Islam menghendaki agar manusia yang satu menyelamatkan, menentramkan dan mengamankan manusia yang lain. Dan (3). Aspek batiniah yang merupakan aspek yang mengatur harmonisasi ke dalam orang itu sendiri, yaitu supaya dapat menimbulkan kedamaian, ketenangan batin maupun kemantapan rohani dan mental.
Peran Manusia Sebagai Khalifah
Dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 30 Allah SWT berfirman: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Berdasarkan dari ayat di atas, Allah SWT menciptakan manusia agar dapat menjadi kalifah di muka bumi. Maksud khalifah di sini adalah manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan fungsi tersebut dengan baik, maka tugas manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik.
Ada dua peranan penting manusia sebagai khalifah di permukaan bumi ini yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat. Pertama, memakmurkan bumi (al-‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar-ri’ayah).
- Memakmurkan Bumi (al-‘imarah)
- Memelihara Bumi (ar-ri’ayah)
Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan menjalankan fungsi sebagai khalifah di muka bumi dengan tidak melakukan
pengrusakan terhadap alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Seperti firman-Nya dalam surat al-Qashash ayat 77 yang artinya: ...dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Anjuran Harmonisasi dalam Islam
Dalam Islam begitu banyak ajaran-ajaran yang menganjurkan tentang harmonisasi sesama umat manusia yang dalam hal ini adalah masyarakat, di antaranya adalah: 1) Sikap saling tolong menolong. (Lihat QS al-Maidah: 2). 2) Saling memberikan kasih sayang dan saling berdamai, (Lihat QS al-Hujarat: 10). 3) Toleransi
beragama. Sebagaimana yang kita ketahui konsep toleransi dalam Islam yang secara definisi Islam adalah “damai”, “selamat” dan “menyerahkan diri”, sehingga Islam sering dirumuskan dengan istilah “Islam agama rahmatal lil’ālamîn” (agama yang mengayomi seluruh alam). Ini berarti bahwa Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan. Dalam al-Qur’an Allah berfirman yang artinya, “dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”.
Di bagian lain Allah mengingatkan, yang artinya: “Sesungguhnya ini adalah umatmu semua (wahai para rasul), yaitu umat yang tunggal, dan aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku (saja)”. Ayat ini menegaskan bahwa pada dasarnya umat manusia itu tunggal tapi kemudian mereka berpencar memilih keyakinannya masing-masing. Ini mengartikulasikan bahwa Islam memahami pilihan keyakinan mereka sekalipun Islam juga menjelaskan “sesungguhnya telah jelas antara yang benar dari yang bathil”.
Allah juga berfirman dalam surah al-Kafirun ayat 6, yang artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”
Dan masih banyak ayat-ayat al-Qur’an lain yang menganjurkan kepada kita untuk senantiasa selalu menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam dalam hal menjaga dan meningkatkan keshalehan sosial dalam memelihara keharmonisan sesama masyarakat.
Kondisi Umat Islam Sekarang ini
Melihat kondisi umat Islam hari ini mungkin kita patut bersedih, konflik antar sesama terus terjadi, coba kita saksikan bagaimana negara-negara non Islam menghancurkan negara-negara berbasis Islam dengan berbagai macam pola dan strategi untuk memporak-porandakan Islam, seperti yang terjadi di negara Libya, Sudan, Mesir, Palestina, Irak, Afganistan, Pakistan, Iran, Maroko dan lain sebagainya. Kemudian belum lagi perselisihan antara kaum sunni dan syiah di beberapa negara Islam seperti di Irak, Palestina, Yaman dan lain sebagainya. Sungguh kita sebagai kaum muslimin patut menangis dan menyesali hari ini dengan musibah yang menimpa saudara-saudara kita di sana.
Begitu juga yang terjadi di Indonesia, persoalan utama yang selalu terjadi dapat kita lihat dalam penentuan awal puasa ramadhan yang diikuti oleh penentuan idul fitri, persoalan ini hampir selalu menjadi bahan perselisihan dan perbedaan yang lazimnya terjadi pada
ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah dan lain sebagainya, selanjutnya persoalan-persoalan furu’ seperti jumlah raka’at shalat tarawih, persoalan qunut dan lain sebagainya. Semua ini sangat sering menjadi masalah dalam masyarakat muslim yang akhirnya dapat memecah belah umat. Sehingga mengakibatkan nilai-nilai keharmonisan itu hilang antar sesama ummat.
Begitu juga halnya yang kita saksikan di Aceh sebagai bumi Serambi Mekkah dan berstatus Syari’at Islam, begitu banyak kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam (membawa bendera Islam) mengklaim bahwa dirinyalah yang terbaik, yang paling benar dan yang sangat kita sesali begitu mudah mengkafirkan kelompok lain demi kepentingan tertentu. Ini menunjukkan bahwa begitu lemah pemahaman kita dalam mengamalkan ajaran dan nilai-nilai keislaman.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Abu Ummah al-Bahuli r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Saya dapat menjamin suatu rumah
di kebun surga untuk orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia benar. Dan menjamin suatu rumah dipertengahan surga bagi orang yang tidak berdusta, mekipun bergurau. Dan menjamin suatu rumah dibahagian yang tinggi dari surga bagi orang yang baik budi pekertinya“. Dari hadis ini jelas sekali Rasul sangat menginginkan adanya sebuah perdamaian, saling menghargai dan menghormati antara sesama ummatnya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antar sesama ummat beragama. Islam hadir bukanlah menjadi agama teroris sebagaimana yang diklaim oleh Barat hari ini, Islam bukan agama yang melanggar HAM dan Islam bukanlah agama yang identik dengan kekerasan. Justru Islam hadir sebagai pembawa kedamaian, kenyamanan dan sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Harapan dari kenyataan
Akhirnya pada kesempatan yang singkat
ini kita berharap bagaimana umat Islam dapat membangun spiritual baru dan pengembangan etika dalam suatu agama yang lebih mendukung pada perdamaian dan penyelesaian masalah secara nirkekerasan. Kita sebagai umat Islam harus benar-benar dapat mengembangkan dan mempraktekkan nilai-nilai toleransi antar sesama, saling tolong menolong, menjauhkan diri dari perbuatan fitnah, dan terus menjaga keharmonisan baik dengan Allah SWT sebagai pencipta maupun antar sesama masyarakat sebagai bentuk keshalehan sosial.
Memang tidak ada manusia di dunia ini yang terbebas dari masalah, namun itulah sebuah cobaan. Bagi orang yang beriman, setiap masalah dihadapi dengan ketabahan dan instrospeksi apalagi di awal tahun baru hijriah ini, yang baru saja kita peringati dengan berbagai macam bentuk, baik melalui dakwah di mesjid-mesjid, memberikan ucapan selamat via sms maupun email dan bahkan kita memeriahkan dengan menyelenggarakan pawai 1 muharram. Ini semua menunjukkan citra Islam yang penuh dengan
perdamaian serta terus mensyiar nilai-nilai ajaran Islam.
Islam selalu memosisikan diri sebagai solusi dari semua perbedaan, perselisihan dan permasalahan. mari kita kembali kepada jalan yang benar, jalan yang ihdinash shirathal mustaqiem, menuju kehidupan yang senantiasa selalu harmoni, damai dan indah.
Ditulis Oleh:
Farid Wajdi Ibrahim
Rektor IAIN Ar-Raniry
Catatan Rektor Lainnya :
- TAUHID TASAWUF DAN PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSANTARA (SAMUDERA PASAI)
- HARMONISASI DALAM ISLAM
- Menuju Arah Perubahan IAIN ke UIN
- Perkembangan IAIN Ar-Raniry
- AMANAT REKTOR DALAM RANGKA WISUDA SARJANA IAIN AR-RANIRY SEMESTER GANJIL TAHUN AKADEMIK 2009/2010
- SAMBUTAN REKTOR PADA SEMINAR INTERNASIONAL
- NUZUL QURAN DAN TANTANGAN GLOBAL
- Sambutan Launching Website






